makalah budidaya karet

MAKALAH BUDIDAYA TANAMAN KARET
Tugas Mata Kuliah Budidaya Tanaman Semusim dan Tahunan
http://www.unwahas.ac.id/unwahas/file/7e6b6dd17f88b5028f8ccf57df0b16d2.jpeg










Dosen Pengampu : Renan Subantoro, SP, M.Sc dan Ir. Mochamad Chaeran, M.Si

Disusun oleh :
KELOMPOK  IV


1.         Budi Setyono                                  154010054
2.         Rizcky Usea Dhana                        154010058
3.         M. Ali Rif’an                                  154010059
4.         Obby Novandi S                             154010060


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS WAHID HASYIM
TAHUN 2016

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Tanaman karet merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menduduki posisi cukup penting sebagai sumber devisa non migas bagi Indonesia, sehingga memiliki prospek yang cerah. Oleh sebab itu upaya peningkatan produktifitas usahatani karet terus dilakukan terutama dalam bidang teknologi budidayanya (Anwar, 2001).
Karet adalah tanaman perkebunan tahunan berupa pohon batang lurus. Pohon karet pertama kali hanya tumbuh di Brasil, Amerika Selatan, namun setelah percobaan berkali-kali oleh Henry Wickham, pohon ini berhasil dikembangkan di Asia Tenggara, di mana sekarang ini tanaman ini banyak dikembangkan sehingga sampai sekarang Asia merupakan sumber karet alami. Di Indonesia, Malaysia dan Singapura tanaman karet mulai dicoba dibudidayakan pada tahun 1876. Tanaman karet pertama di Indonesia ditanam di Kebun Raya Bogor (Deptan, 2006).
Indonesia pernah menguasai produksi karet dunia, namun saat ini posisi Indonesia didesak oleh dua negara tetangga Malaysia dan Thailand. Lebih dari setengah karet yang digunakan sekarang ini adalah sintetik, tetapi beberapa juta ton karet alami masih diproduksi setiap tahun, dan masih merupakan bahan penting bagi beberapa industri termasuk otomotif dan militer (Maryadi, 2005).
Tanaman karet ( Hevea brasilliensis Muell Arg ) adalah tanaman getah-getahan. Dinamakan demikian karena golongan ini mempunyai jaringan tanaman yang banyak mengandung getah ( lateks ) dan getah tersebut mengalir keluar apabila jaringan tanaman terlukai (Santosa, 2007).
Tanaman karet berupa pohon dengan ketinggian bisa mencapai 15 m sampai 25 m. Batang tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi keatas. Batang tersebut berbentuk silindris atau bulat, kulit kayunya halus, rata-rata berwarna pucat hingga kecoklatan, sedikit bergabus (Siregar,1995).

Rumusan Masalah

Berikut macam-macam rumusan masalah budidaya tanaman karet, yaitu:

a)      Mengetahui cara budidaya tanaman Karet?
b)      Mengetahui cara panen tanaman Karet?
c)      Apakah kesesuaian lahan berpengaruh terhadap budidaya tanaman?
Tujuan
Tujuan dari budidaya tanaman adalah :
a)      Untuk mengetahui cara budidaya tanaman Karet.
b)       Untuk mengetahui cara panen tanaman Karet.
c)      Untuk mengetahui pengaruh kesesuaian lahan terhadap budidaya tanaman.


BAB II
PEMBAHASAN

Pembibitan merupakan rangkaian kegiatan dalam mempersiapkan mutu tanaman dengan indikator keberhasilan berupa bibit polybag yang prima dan homogen dengan batang yang kokoh dan kondisi daun yang sehat dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu.Kondisi bibit sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan dalam budidaya karet, oleh karena itu bibit prima merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi.Sasaran ini dapat dicapai apabila tahapan pembibitan dilaksanakan secara disiplin dan terarah yang diawali dari seleksi ketat setiap tahapan dan penggunaan klon anjuran untuk batang atas yang bersumber dari kebun entres dengan umur≤ 10 tahun. Adapun tahapan pembibitan karet adalah sebagai berikut:
1.        Pengadaan Biji Karet
Biji karet sebagai batang bawah harus terjamin mengenai jumlah dan mutunya.Biji karet bersumber dari kebun benih yang telah teruji kemurniannya oleh Balai Penelitian dan telah bersertifikat. Biji sebagai batang bawah (stock) akan mempengaruhi kompatibilitas/kesesuaian dengan batang atas (scion) dan pertumbuhan serta perkembangan tanaman selanjutnya, sebab akar sebagai source (sumber hara dan air) untuk mendukung proses fotosintesis. Seleksi merupakan hal mutlak yang harus dilaksanakan untuk mendapatkan mutu yang baik.
Biji karet yang direkomendasikan sebagai batang bawah berasal dari klon LCB 1320, GT 1, AVROS 2037, PR 300, BPM 24 dan PB 260 (Sumber: Balit Getas) dan klon-klon tersebut yang mempunyai tingkat kesesuaian paling tinggi adalah LCB 1320.
Syarat kebun sumber benih ideal sebagai berikut:
a.       Terdiri dari klon anjuran untuk sumber benih
b.      Kemurnian klon minimal 95%
c.       Umur tanaman 10–25 tahun
d.      Pertumbuhan normal dan sehat
e.       Penyadapan sesuai norma
f.       Luas blok minimal 15 ha
g.      Topografi datar.
Agroekosistem untuk kebun penghasil biji karet yang baik adalah didaerah kering yang iklim kemaraunya tegas, karena produksi bijinya lebih tinggi serta mutunya dinilai lebih baik dari pada biji dari daerah beriklim basah.
Biji yang telah terkumpul harus segera dikecambahkan karena mempunyai sifat rekalsitran dimana daya kecambah/viabilitas-nya cepat menurun.Penyimpanan maksimum 3 (tiga)hari dan disebar dalam lantai luas pada ruangan yang sirkulasi udaranya baik dan sejuk.
Untuk mengantisipasi terjadinya kekurangan biji dan mendapatkan biji dengan daya kecambah yang tinggi diperlukan usaha-usaha sebagai berikut:
a.         Usaha meningkatkan potensi produksi biji karet pada kebun-kebun sumber biji dengan tetap memperhatikan syarat kebun sumber benih ideal serta pembangunan kebun benih dimasing-masing kebun
b.         Memperlancar dan mempercepat proses pengangkutan biji karet dari areal sumber biji ke lokasi penerima
c.         Secara teratur dan tertib melakukan pengumpulan biji setiap hari pada saat musim biji agar diperoleh biji-biji yang segar dan baik mutunya dan segera dilakukan seleksi untuk dikecambahkan.

1.1.       Teknik Pengumpulan Biji
Untuk memperoleh biji yang bermutu perlu diperhatikan langkah- langkah sebagai berikut:
a.         Kebun biji bebas dari gulma, minimal 1 (satu) bulan sebelum biji berjatuhan
b.         Diadakan pungutan pendahuluan 2 (dua) hari sebelum pengambilan biji dan hasilnya dibuang karena dikhawatirkan mutunya jelek
c.         Rotasi pengumpulan biji 1 (satu)hari sekali
d.        Setelah biji terkumpul dari suatu kelompok pemungut, dilaksanakan pengambilan contoh untuk mengetahui kesegaran biji.Penilaian kesegaran biji didasarkan pada warna dan keadaan biji yang dibelah dengan mengambil sampel sebanyak 100 (seratus) biji:
·           Belahan biji yang berwarna putih sampai putih kekuningan dinilai masih baik
·           Belahan biji yang sudah berwarna kekuningan berminyak, kuning kecoklatan sampai  hitam dan atau keriput dinilai jelek.
Nilai kesegaran biji yang baik minimal 80%.Daya berkecambah biji dapat turun sampai 50% selama dalam pengiriman kedaerah lain, terutama dalam pengiriman jumlah besar kesegaran biji sebelum dikirim sangat berpengaruh pada persentase daya berkecambah, oleh karena itu penilaian kesegaran biji perlu ditetapkan pada waktu penerimaan dari pengumpul.

1.2.       Rasio Kebutuhan Biji
Untuk memperoleh bibit yang baik, maka yang terpenting adalah seleksi ketat yang dimulai dari seleksi biji dengan konsekuensi kebutuhan biji akan berlipat.
Cara menghitung kebutuhan biji adalah sebagai berikut:
1.2.1.      Pembibitan Polybag
a.    Menghitung koefisien berdasarkan tahapan seleksi


Uraian
Persentase
- Seleksi biji
70%
- Biji berkecambah/daya berkecambah
80%
- Kecambah dapat dipindahkan
50%
- Kecambah hidup
90%
- Bibit dapat diokulasi
85%
- Okulasi jadi
80%
- Stump dipindah ke polybag
90%
- Bibit polybag siap salur
90%
- Bibit tumbuh di lapangan
95%

Dari tahapan diperoleh koefisien sebagai berikut:
=100/70x100/80x100/50x100/90x100/85x100/80x100/90x100/90x100/95
= 7,58
b.    Kebutuhan biji per satuan luas dengan rumus:
KB = 7,58 P.A
KB         = Kebutuhan biji
P             = Kerapatan pohon (pohon/ha)
A            = Luas areal TTI (ha)
c.    Jumlah kebutuhan benih maupun bibit siap salur sangat tergantung pada persentase tiap komponen yang diasumsikan dengan harapan tidak terjadi kekurangan bibit.
1.2.2.      Pembibitan Tanam Benih Langsung (Tabela)
a.    Menghitungkoefisien berdasarkan tahapan seleksi.Untuk kebutuhan biji pada pembibitan tanam benih langsung (tabela) penghitungannya sebagai berikut:
Uraian
Persentase
- Seleksi biji
70%
- Biji berkecambah/daya berkecambah
70%
- Kecambah dapat dipindahkan
70%
- Kecambah hidup
90%
- Bibit dapat diokulasi
90%
- Okulasi jadi
70%
- Bibit polybag siap salur
90%
- Bibit tumbuh di lapangan
95%
Dari tahapan diperoleh koefisien sebagai berikut:
= 100/70x100/70x100/70x100/90x100/90x100/70x100/90x100/95
= 6,01
b.    Kebutuhan biji per satuan luas dengan rumus:
KB         = 6,01P.A
KB         = Kebutuhan biji
P             = Kerapatan pohon (pohon/ha)
A            = Luas areal TTI  (ha)
c.    Jumlah kebutuhan benih maupun bibit siap salur sangat tergantung pada persentase tiap komponen yang diasumsikan dengan harapan tidak terjadi kekurangan bibit.
2.        Pengecambahan
2.1.   Bedeng pengecambahan (germination bed)
Bedeng pengecambahan harus sudah disiapkan sebelum pengumpulan biji, sehingga begitu biji terkumpul bisa segera diseleksi dan dikecambahkan karena sifat biji karet daya berkecambahnya cepat menurun.
2.1.1.      Pemilihan lokasi
Lokasi bedeng pengecambahan seharusnya dekat dengan sumber air untuk memudahkan penyiraman dan dekat dengan lokasi pembibitan lapangan, sehingga biaya dan tenaga lebih efisien.
2.1.2.      Membuat bedeng pengecambahan
a.    Tanah media pengecambahan dibersihkan dari gulma, batu-batuan, gumpalan tanah dan sisa-sisa akar
b.   Pada tepi bedengan diberi pembatas dan penguat berupa papan/bambu, kemudian diatas bedengan dihamparkan pasir sungai yang telah diayak setebal 5 cm diratakan
c.    Lebar bedengan 1,2 mdengan tujuan memudahkan karyawan melaksanakan pekerjaan penyemaian (deder) benih dan pekerjaan lainnya, sedang panjangnya menyesuaikan keadaan tempat (antara 5–10 m)
d.   Arah bedengan memanjang Utara-Selatan dan diberi naungan/atap dari daun kelapa/sejenis dimana ukuran atap lebih lebar dari ukuran bedeng untuk melindungi bedengan dari hujan dan sinar matahari
e.    Tinggi tiang sebelah timur 1,2 m dan sebelah barat 0,9 m serta bagian depan dan belakangnya ditutup dengan plastik untuk menjaga kelembaban bedengan
f.     Jarak antar bedengan 1,5 m.
o   Cara pengecambahan
Cara mengecambahkan biji karet adalah sebagai berikut:
§  Posisi biji dibenam pada bedeng pengecambahan yang telah disiapkan dengan posisi bagian perut (finiculus) menghadap kebawah dan punggungnya terlihat dipermukaan pasir (1/3 bagian) dimana lubang biji (mikrofil) menghadap ke satu arah
§  Jarak antar biji ± 1 cm sehingga tiap 1 m² bedengan memuat ± 800 butir untuk jenis LCB dan PR, sedangkan GT 1 mampu sampai dengan ± 1000 butir
§  Penyiraman dilaksanakan 2 (dua) kali sehari yaitu pagi dan sore hari dengan menggunakan gembor. Setelah penyiraman pagi hari, tutup plastik dibuka selama± 1 (satu) jam agar sinar matahari dapat masuk dan terjadi sirkulasi udara
§  Pemeriksaan kecambah dilakukan setiap hari, biji yang dikecambahkan dengan disertai penyiraman yang cukup, akan berkecambah sejak hari ke-3 setelah biji disemai. Untuk memperoleh bibit batang bawah yang jagur dan homogen maka hanya biji yang berkecambah sampai hari ke-14 saja yang dipindahkan ke pembibitan lapangan dan sisanya dibuang.


PERSIAPAN LAHAN DAN PENANAMAN KARET
Pekerjaan-pekerjaan persiapan lahan dan penanaman karet meliputi:
1.      Desain Kebun
1.1.      Penentuan luas blok
Penentuan luas blok dalam rencana tanam ulang ataupun konversi harus segera ditentukan, karena hal ini berkaitan dengan perencanaan yang lain misalnya akan ada berapa macam jenis klon yang dikembangkan. Secara ideal satu blok memiliki luas± 20 ha.
1.2.      Pembuatan jalan, jembatan dan saluran air
1.2.1.      Pembuatan jalan
Pembuatan jalan bertujuan untuk memudahkan didalam pelaksanaan kerja, pengawasan kebun dan transportasi produksi.
Menurut fungsinya jalan dibedakan:
Ø  Jalan utama (primer/main road) adalah jalan yang menghubungkan antarajalan propinsi/kabupaten  dengan pusat kegiatan pabrik. Ukuran lebar 5-6 m, ditambah dengan parit kiri dan kanan jalan lebar 60 cm. Seluruh ruas jalan harus dibentuk cembung dan dipadatkan dengan compactor, jalan harus bebas dari naungan selebar 9 m. Jalan yang becek ditimbun pasir dan batu
Ø  Jalan produksi(sekunder/production road) adalah jalan yang menghubungkan antara jalan Afdeling dengan pusat kegiatan pabrik. Ukuran lebar 4-5 m, parit kiri kanan jalan lebar 60 cm
Ø  Jalan kontrol (tersier)berfungsi sebagai jalan transportasi produksi, mempermudah kontrol sampai batas kebun yang terjauh. Ukuran lebar 3-4 m dengan atau tanpa parit (melihat letaknya).
1.2.2.      Jembatan
Ø  Jembatan berfungsi menghubungkan jalan utama, jalan produksi dan jalan kontrol atau blok yang terputus karena keadaan alam
Ø  Pada daerah yang dialiri sungai pembuatan jaringan jalan diusahakan melalui bagian sungai yang sempit, agar pembangunan jembatan lebih mudah dan efisien
Ø  Untuk sungai kecil dan dangkal cukup dibuat gorong-gorong, demikian juga pada jalan yang rendah dan ada penyaluran air dari parit
Ø  Luas penampang gorong-gorong disesuaikan dengan kondisi/kebutuhan
Ø  Untuk parit yang luas penampangnya lebih dari 0,8 m persegi sebaiknya dipasang gorong-gorong ganda atau bentuk persegi
Ø  Pemasangan gorong-gorong yang melintang jalan ditimbuni tanah/batu minimal 40cm dibawah permukaan jalan untuk mengurangi tekanan pada gorong-gorong agar tidak mudah pecah.
1.2.3.      Saluran air
Pembuatan saluran air pada tanaman baru maupun tanaman ulangan dimaksudkan untuk mengendalikan aliran air pada waktu musim hujan, agar tidak erosi sebagai akibat terbukanya lahan.
Jenis selokan/saluran air:
Ø  Selokan buntu/got buntu/rorak
Ø  Selokan penguras/drainase
Ø  Selokan tepi jalan untuk penuntas air di jalan secara cepat.
2.      Pembukaan Lahan (Land Clearing)
2.1.   Cara pembukaan lahan
2.1.1.   Cara manual
Persiapan lahan baik itu Tanam Ulang atau Konversi pada prinsipnya sama yaitu lahan harus bersih dari sisa-sisa tunggul beserta akarnya. Hal ini guna mencegah berfungsinya tunggul ataupun sisa perakaran sebagai inang penyakit.
Pembersihan lahan secara manual dengan menggunakan peralatan yang sederhana yaitu: cangkul, sabit dan kapak.

 
Tunggul digali sampai terangkat semua bagian perakarannya.Lahan galian dari bekas pendongkelan akar, harus ditutup lagi setelah semua akar terbawa keluar.
2.1.2.   Cara mekanis
a.       Dongkel Tunggul
      Pembersihan lahan secara mekanis menggunakan alat berat (ekskavator) dan tunggul yang sudah terangkat dikumpulkan.
b.      Pengolahan Tanah
·      Bajak I/Ploughing I, kedalaman minimal 20 cm
·      Ayap Akar I/Root Collecting I, memotong dan mengumpulkan sisa akar hasil bajak I
·      Bajak II/Ploughing II, kedalaman 30-40 cm
·      Ayap Akar II/Root Collecting II, memotong dan mengumpulkan sisa akar hasil bajak II
·      Garu, meratakan tanah hasil bajak
2.2.      Pemberantasan gulma
Pemberantasan gulma berkayu secara manual lebih efektif, karena gulma dapat terangkat sampai perakarannya, sedangkan untuk jenis alang-alang dapat diberantas secara kimiawi dengan menggunakan herbisida.
2.3.      Tata Tanam
2.3.1        Pola tanam
Ø  Lahan datar dengan sudut kemiringan <5º pola tanamnyalarikan dan pada lahan bergelombang secara petak/teras individu
Ø  Lahan bergunung atau berbukit dengan sudut kemiringan 6-45º pola tanamnya secara teras contour (sabuk gunung)
Ø  Lahan yang mempunyai sudut kemiringan lebih dari 45º tidak dapat ditanami karet (areal konservasi).
2.3.2.      Jarak tanam
Beberapa faktor yang erat hubungannya dengan pertimbangan pemilihan jarak tanam adalah kesuburan tanah, jenis tanah, iklim, topografi tanah dan populasi hama/penyakit.
Di PTPN IX (Persero) menggunakan jarak tanam:
Ø  5 x 3 m, jarak 5 adalah jarak antar barisan, sedang 3 m adalah jarak dalam barisan, sehingga kerapatan pohon per ha adalah 667 pohon
Ø  6 x 3 m, jarak 6 adalah jarak antar barisan, sedang 3 m adalah jarak dalam barisan, sehingga kerapatan pohon per ha adalah 555 pohon
Ø  Khusus untuk kebun-kebun/blok yang drainasenya jelek, bekas sawah dan sering kebanjiran digunakan jarak tanam 8 x 2,5 m dengan sistem surjan, kerapatan pohon 500 pohon/ha dan untuk kebun daerah lintasan angin (Kebun Balong) menggunakan jarak tanam 6 x 2,5 m dengan kerapatan pohon 667 pohon/ha.
3.        Persiapan lahan
3.1.   Mengajir larikan
Mengajir larikan dilaksanakan umumnya pada lahan dengan kemiringan sampai 5º, dan dapat dilanjutkan secara petak/teras individu pada lahan bergelombang.
3.1.1        Alat yang diperlukan
1.        Water pas, kompas
2.        Bambu ukuran 10 m, 5/6/8 m dan 2,5/3 m
3.        Tali plastik panjang ±25 m
4.        Ajir isi panjang masing-masing 1 m
5.        Ajir kepala dan ajir induk panjang 3 m dan 2 m
6.        Ajir piket panjang 30 cm
7.        Pemukul dari kayu
8.        Lembaran plastik atau bendera untuk umbul-umbul
9.        Kapur/labur dan cat merah.
3.1.2        Pelaksanaan mengajir larikan
1.        Mencari patok hektaran (100 x 100 m) hasil pemetaan sebagai titik pusat
2.        Pancangan ajir kepala tiap jarak 50 m dan 100 m, arah tegak lurus Barat-Timur dan Utara-Selatan. Bagian atas ajir kepala dipasang bendera atau dilabur putih untuk tanda
3.        Memancangkan ajir induk/pembantu dengan jarak ukuran Utara–Selatan: 3 m dan Timur–Barat: 6 m, sedang jarak patok kepetak hektar adalah Utara-Selatan: 1,5 m, dan Timur-Barat: 3 m. Agar tidak kehilangan jejak pada tiap ajir induk dipancangkan ajir piket yang kepalanya di cat merah
4.        Setelah ajir induk selesai dikerjakan (bentuk perempatan) dilanjutkan dengan pengisian ajir tanaman dengan cara ajir isian dipancangkan dengan meluruskan pada ajir kepala dan ajir induk
5.        Dari petakan induk ini pengisian ajir diteruskan kepetak lainnya dengan cara meluruskan.
Gambar 39. Patok hektar, ajir induk, ajir lubang tanam dan titik ajir yang akan
                     dipancangkan
 
Keterangan:
: Patok hektar             
o       :Ajir lubang tanam
O      : Ajir induk/pembantu
x       :Titik ajir yang akan dipancangkan
4.        Penanaman karet
4.1.   Membuat lubang tanam
4.1.1.      Alat-alat yang digunakan:
Ø  Cangkul biasanya dengan tangkai pendek
Ø  Garpu/sabit
Ø  Ukuran untuk lubang tanam
Ø  Mandor harus membawa mal persegi dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm dalam lubang tanam untuk kontrol.
4.1.2.      Ukuran lubang tanam
Ø  Persiapan lahan (teras danlubang tanam selesai) kondisi lubang siap tanam (April s/d Agustus)
Ø  Ukuran lubang tanam: 60 x 60 x 60 cm
Ø  Waktu membuat lubang tanam diusahakan ajir tidak terbongkar, oleh karena itu pembuatan lubang tanam dilakukan disebelah kanan/kiri ajir.
4.1.3.      Cara menggali lubang tanam
Agar letak lubang tidak berubah dari ajir, maka lubang dibuat sedemikian rupa sehingga ajir terletak ditengah-tengah lubang. Tanah lapisan atas/top soil dibuang dan ditimbun disebelah Utara/kanan dan tanah bawah/sub soil disebelah Selatan/kiri.
HAMA DAN PENYAKIT
            Pemeliharaan kebun khususnya perlindungan tanaman terhadap gangguan hama dan penyakit merupakan kegiatan yang sangat penting dan harus dilakukan dengan cermat oleh para petugas dalam usaha meningkatkan produktivitas kebun.
            Kerugian yang sangat besar akibat kekeliruan / ketidakmampuan para petugas kebun dalam menghadapi gangguan hama dan penyakit tidak hanya berupa penurunan produksi baik kualitas maupun kuantitas tetapi juga menyebabkan naiknya biaya produksi, rehabilitasi maupun pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida yang tidak terkendali.
            Untuk dapat melakukan tugas-tugas perlindungan tanaman khususnya penyakit, seorang petugas harus mengetahui dengan benar tentang:
·         Penyebab hama dan penyakit
·         Gejala hama dan penyakit
·         Faktor yang mendukung perkembangan hama dan penyakit
·         Pengendalian hama dan penyakit
1.        Hama Tanaman Karet
Jenis-jenis hama dan cara pemberantasannya adalah dilakukan secara spesifik, simultan, dan berkesinambungan dengan cara kultur teknis, mekanis, kimiawi, dan biologi kontrol.  Jenis-jenis hama tanaman karet adalah sebagai berikut:
1.1.       Kutu Lak (Laccifer greeni Chamberlis) menyerang dengan cara menghisap cairan jaringan tanaman karet sehingga ranting-ranting lemah dan menggugurkan daun, terbentuknya jelaga hitam pada permukaan daun sehingga menghambat proses fotosintesis.  Penyebaran kutu lak dilakukan semut.  Pemberantasan dilakukan secara kimiawi menggunakan Anthio 3 EC= 0,15% + Surfaktan Citrowett = 0,025%, Albolineum 2%,  Formalin 0,15%) dengan rotasi 3 minggu sampai dengan serangan habis dibasmi.
1.2.       Kutu Scalle Insects (Saissetia nigru) menyerang dengan cara menghisap cairan tanaman.  Penyebaran kutu ini dilakukan oleh semut.  Pemberantasan menggunakan Albolineum (2%) disemprot dengan rotasi 1-2 minggu, Tamorum (0,05-0,1%) disemprot dengan rotasi 1-2 minggu sampai dengan serangan hilang.
1.3.       Mealy Bugs (Ferrisiana virgata) menyerang pucuk tanaman muda dan bagian bawah helaian daun tanaman di pembibitan.  Gejala serangan ditandai pucuk daun-daun muda keriting dan pada serangan berat daun muda gugur.  Pemberantasan menggunakan Albolineum dan Tamorun.
1.4.       Uret Tanah (Helotrichia serrata) menyerang TBM I dengan gejala tanaman menjadi layu, berwarna kuning bahkan mati.  Pengendalian dilakukan secara kimiawi dengan penyemprotan Endosulfan 0,1%, Furadan 3 G, Diazinon 10 G, atau Basudin 10 G di sekitar leher akar.
1.5.       Belalang (Sexava nigricornis) menyerang tanaman muda dengan memakan daun-daun terutama pada musim kemarau.  Pemberantasan menggunakan Dictophos dan Methonyl.
1.6.       Rayap (Captotermes curvignatus dan Microtermes inspiratus) menyerang Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).  Cara pencegahan yaitu dengan membersihkan areal dari kayu dan sisa akar.  Cara pemberantasan ditabur Basudin 10 G dengan dosis 10-50 gr/pohon.
1.7.       Tritip menyerang Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dengan gejala serangan pada batang mengering dan daun berwarna kuning kemudian layu bahkan mati. Cara pengendalian dengan penyemprotan insectisida sistemik berbahan aktif Imidakloprid misal: Samida yang berselang-seling dengan akarisida/nematisida berbahan aktif Karbosulfan misal: Marshal dengan dosis 2,5 gr/liter air interval 5-7 hari sekali.
2.        Penyakit Tanaman Karet
Beberapa penyakit penting pada tanaman karet dapat digolongkan menjadi penyakit akar, penyakit cabang/batang, penyakit bidang sadap dan penyakit daun.
2.1.       Penyakit akar
Penyakit Jamur Akar Putih (JAP)
2.2.       Penyakit cabang/batang
Penyakit Jamur Upas
Penyakit Bark Necrosis
2.3.       Penyakit Bidang Sadap
2.3.1.      Penyakit Mouldy Rot
2.3.2.      Penyakit Stripe Cancer
2.3.3.      Penyakit Kering Alur Sadap (KAS)
2.4.       Penyakit Daun
2.4.1.      Penyakit gugur daun Oidium
2.4.2.      Penyakit gugur daun Colletotrichum
2.4.3.      Penyakit gugur daun Corynespora
3.1.       Penyakit Akar
Penyakit Jamur Akar Putih (JAP)
a.         Disebabkan oleh jamur Rigidiporus lignosus.
b.         Gejala penyakit
Ø  Pada akar      : adanya benang-benang jamur  (rhizomorf) yang  berwarna putih.  Gejala ini dapat kita lihat apabila daerah perakaran dibuka.
Ø  Pada daun     : daun-daun yang semula tampak hijau segar berubah menjadi layu berwarna kusam akhirnya kering dan rontok disertai matinya ranting-ranting.
Ø  Pohon yang sakit  kadang-kadang membentuk bunga dan buah sebelum masanya.
c.         Faktor yang mempengaruhi penyakit
Ø  Timbulnya penyakit JAP berhubungan erat dengan kebersihan lahan.  Tunggul, sisa-sisa tebangan pohon, perdu, dan semak yang tertinggal dalam tanah merupakan subtract Rigidiporus lignosus.
Ø  Jamur akar putih berkembang dengan baik pada tanah yang porus.
Ø  Penularan penyakit terjadi karena adanya kontak antara akar sakit dan sehat.
d.        Pengendalian penyakit
Cara pengendalian penyakit JAP dimulai dari pembukaan lahan sampai dengan tanaman sudah ditanam sebagai berikut:
v  Perlakuan lahan sebelum tanam
Ø  Tunggul tidak diperkenankan ada pada lahan bekas tanaman lama karena dapat menjadi media perkecambahan spora JAP.
Ø  Daerah sekitar tunggul/bekas tebangan ditabur belerang dengan dosis maksimum 150 gr, terutama untuk blok-blok serangan berat yang JAP-nya aktif.
Ø  Usaha pindah teras lebih baik daripada pindah lubang tanam untuk menghindarkan kontak dengan akar yang ber-rhizomorf.
Ø  Penutupan lubang tanam disertai belerang sebanyak 150 gr dicampur dengan tanah galiannya.
v  Perlakuan bibit tanaman polybag
Ø  Selain pupuk yang sudah dianjurkan, tanah pada polybag dicampur dengan belerang dengan dosis 20-25 gr/polybag
Ø  Pemberian biopestisida berbahan aktif Trichoderma Sp dengan dosis 25 gr/polybag.
v  Perlakuan sesudah tanam
Ø  Pada tahun pertama setelah tanam (masuk musim hujan) sekitar batang tanaman karet TBM I ditabur belerang sebanyak 100 gr/pohon melingkar dengan jari-jari sekitar 30-40 cm.
Ø  Perlakuan di atas dilakukan juga untuk TBM II s.d V setiap tahunnya, dengan dosis belerang ditingkatkan sampai maksimum 200 gr/pohon (pada TBM V) dengan jari-jari penyebaran belerang diperpanjang.
Ø  Deteksi adanya serangan lebih dini sangat diperlukan.  Saat musim hujan serangan JAP aktif, tetapi gejala belum kelihatan jelas.  Gejala akan jelas jika sudah mendekati musim kemarau.
Ø  Pengendalian hayati dilakukan dengan pemberian biopestisida berbahan aktif Trichoderma sp (Saco P) diformulasikan dalam bentuk serbuk biofermentor dengan dedak sebagai bahan padat, diaplikasikan secara tabur di sekitar leher akar tanaman.
      Dosis yang dianjurkan sebagai berikut:
·         TBM I                   :    50 gr/pohon
·         TBM II-TBM V    :  100 gr /pohon
·         TM                        :  150 gr/pohon
v  Perlakuan pada TM (Tanaman Menghasilkan)
Ø  Apabila ada pohon yang tumbang, tunggulnya harus segera dibongkar dan ditabur belerang 150 gr/pohon.
Ø  Bila pengendalian JAP pada lima tahun pertama berhasil baik, maka untuk lima tahun kedua pengendalian sudah ringan karena penggunaan belerang sudah tidak diutamakan.
3.2.       Penyakit cabang/batang
3.2.1.      Penyakit Jamur Upas (Cortisium salmonicolor)
a.    Disebabkan oleh jamur Cortisium salmonicolor
b.    Gejala penyakit
Ø  Penyakit jamur upas timbul pada batang atau cabang dan umumnya berkembang dari pangkal cabang, karena bagian ini keadaannya lebih lembab dari bagian lain.
Ø  Serangan awal adanya benang-benang halus mirip sarang laba-laba pada bagian yang diserang, dimana pada gejala ini jamur belum masuk dalam jaringan kulit.
Ø  Tahap selanjutnya jamur membentuk kerak berwarna merah jambu (pink).
Ø  Disamping ditandai oleh kerak berwarna merah jambu kadang-kadang pada permukaan keluar lateks.  Pada tahap ini kulit kayu yang ada dibawahnya telah membusuk.
c.    Faktor yang mempengaruhi penyakit
Ø  Penyakit jamur upas dijumpai pada klon-klon yang bertajuk ringan.
Ø  Musim hujan, keadaan sangat lembab atau berkabut sangat membantu berjangkitnya penyakit ini.
Ø  Kerentanan klon karet juga berpengaruh terhadap perkembangan penyakit.  Klon-klon karet yang rentan terhadap jamur upas antara lain GT 1, RRIM 600, RRIM 623, PR 255, PR 300, PR 226 dan PR 228.
d.   Pengendalian penyakit
Ø  Bagian yang terserang dioles dengan bubur bordeaux dengan interval 7-10 hari, jumlah aplikasi 4-6 kali.  Pada waktu pengolesan tidak perlu didahului dengan pengerokan.  Pengolesan dilakukan pada bagian yang sakit dan ditambah pada bagian atas dan bawah ± 30 cm.
Ø  Cara pembuatan bubur Bordeaux:
Larutkan 1 kg cupri sulfat ke dalam
5 lt air (Larutan I)
Larutkan 5 kg kapur tohor ke dalam
5 lt air (Larutan II)
Larutan I dimasukkan ke larutan II diaduk perlahan-lahan sampai merata.
3.2.2.      Bark Nekrosis
a.    Penyakit ini disebabkan oleh jamur Fusarium sp, Fusarium solani yang  berasosiasi dengan Botryodiplodia sp.
b.    Gejala penyakit:
Penyakit ini pada umu
mnya menyerang di pembibitan polibag yaitu pada pertautan okulasi terutama pada tanaman yang kurang prima. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga menyerang pada TBM.
Pada TM gejala awal bercak coklat seperti memar di permukaan kulit. Gejala lebih lanjut pembuluh lateks pecah (bleeding) dan kerusakan meluas sampai ke percabangan.
c.    Pengendalian penyakit
·      Secara kultur teknis/preventif:
1.    Pengendalian gulma & pemupukan yg baik
2.    Penyadapan & stimulasi yg tepat
3.    Pengawasan teratur
·      Secara kuratif:
1.    Pengerokan kulit pasir
2.    Pengolesan fungisida (alternatif):
-          Calixin RM/Difolatan 4F/Aliette 80WP
-          Calixin 750/Alto 100SL/Anvil 250EC
-          Antico F96

3.3.       Penyakit Bidang Sadap
3.3.1.      Mouldy Rot
a.    Penyebab penyakit
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Ceratosmella fimbriata
b.    Gejala penyakit
Ø  Bidang sadap yang terdekat dengan irisan sadapan mula-mula terdapat bercak-bercak yang berwarna hitam dan cepat meluas sehingga merupakan jalur berwarna hitam sejajar dengan irisan sadapan.
Ø  Pada cuaca yang sangat lembab dapat terjadi lapisan cendawan seperti beludru yang berwarna keabu-abuan.
Ø  Pada serangan yang berat dapat menyebabkan luka-luka besar.
c.    Faktor yang mempengaruhi penyakit
Adanya pergantian musim, dimana biasanya timbul pada peralihan musim basah ke kering atau dari kering ke basah.
d.   Pengendalian penyakit
Bagian yang sakit dioles dengan fungisida Bavistin dengan konsentrasi 0,3-0,5% dengan interval 1-2 bulan atau dengan Divolatan 4 F dengan konsentrasi 2% interval 1-2 bulan.
3.3.2.      Penyakit Kanker Garis (Stripe Cancer)
a.    Penyebab penyakit
Disebabkan oleh jamur Phytopthora palmivora
b.    Gejala penyakit
Pada bidang sadap dekat irisan sadapan terjadi garis-garis vertical yang halus berwarna hitam.  Garis-garis hitam tersebut yang berdekatan bersatu membentuk jalur atau bercak yang berwarna hitam.
c.    Faktor yang mempengaruhi penyakit
Pergantian musim basah ke kering atau sebaliknya mempercepat perkembangan penyakit ini.
d.   Pengendalian penyakit
Bagian yang sakit dioles dengan fungisida , fungisida yaitu: Difolatan 4 F dengan konsentrasi 2% interval 1-2 bulan. Fungisida Bavistin konsentrasi 0,3-0,5% interval 1-2 bulan.
3.3.3.      Penyakit Kering Alur Sadap/Brown Bast (KAS/BB)
a.    Penyebab penyakit
Fisiologis karena kelelahan, proses sakitnya dapat
menyebar.
b.    Gejala penyakit
Ø  Gejala awal yang dapat dilihat secara visual yaitu tidak mengalirnya lateks pada alur sadap.
Ø  Kulit bagian dalam berwarna coklat.
Ø  Terjadi kelainan bentuk pada batang, benjolan-benjolan timbul pada batang karena terbentuk kambium sekunder.
Ø  Kekeringan bisa terjadi setempat-setempat disebut BB parsial.  Kekeringan pada seluruh bidang sadap disebut BB total. Kekeringan pada alur sadap disebut Tapping Panel Disease (TPD).
c.    Faktor yang mempengaruhi penyakit
Penyadapan yang terlalu berat (over tapping) akan mengakibatkan timbulnya penyakit ini.
d.   Pengendalian penyakit
Ø  Mencari batas bagian yang terkena KAS dengan yang masih normal dengan cara menusuk kulit pada bidang sadap kearah vertikal.
Ø  Kemudian buat alur isolasi sebagai pembatas antara yang sakit KAS dan yang normal dengan mempergunakan pisau sadap sampai kedalaman 1 mm dari kambium.
Ø  Kerok semua bagian yang sakit dengan mesin “bark scrapping” atau secara manual menggunakan pisau sadap bawah dengan kedalaman pengerokan 4-5 mm dari kambium.
Ø  Setelah dikerok diolesi dengan obat NoBB dengan dosis 40-50 ml/pohon/aplikasi. Aplikasi dilaksanakan 3 kali:
Ø  Satu sampai tiga minggu setelah pengolesan NoBB aplikasi pertama, sebaiknya disemprot insektisida sebagai tindakan preventif dari serangan hama bubuk.
Ø  Pengerokan sebaiknya tidak dilaksanakan pada musim hujan dan musim hama bubuk.
Ø  Satu bulan setelah pengolesan NoBB aplikasi ketiga, pohon boleh disadap kembali dengan cara memindahkan panel sadap ke bidang sadap yang lain, diutamakan ke kulit perawan.
Ø  Tanaman akan sembuk kembali setelah 1-1,5 tahun, bekas bagian yang sakit boleh disadap lagi setelah pulihannya mencapai ketebalan 7 mm.
3.4.       Penyakit Daun
3.4.1.      Penyakit gugur daun Oidium (Oidium heveae)
Kebun yang curah hujannya tinggi dan merata, serangannya lebih ringan daripada kebun yang curah hujannya rendah dan tegas pada daerah yang terletak di dataran rendah.  Kebun yang letaknya tinggi serta kelembabannya juga tinggi maka serangan Oidium Sp akan terus menerus.  Penyakit ini dapat merugikan produksi 10-20% hasil lateks per tahun.
a.    Penyebab penyakit                    
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Oidium heveae
b.    Gejala Penyakit : 
Ø  Daun-daun muda yang baru berkembang tampak suram, daun menjadi lemas dan tepi-tepinya agak keriting, stelah beberapa hari daun gugur satu per satu.
Ø  Pada daun yang agak tua terjadi perubahan warna, dimana permukaan daun yang sehat terdapat bercak-bercak putih seperti beludru halus.  Umumnya yang gugur hanya satu-dua daun saja.
c.    Faktor yang mempengaruhi
Ø  Perkembangan penyakit ini dibantu oleh sedikit hujan, tidak banyak sinar matahari dan suhu yang agak rendah.
Ø  Di kebun-kebun karet dataran rendah penyakit ini timbul pada waktu flush yaitu sehabis tanaman karet meranggas biasanya berlangsung pada bulan Juli s.d September.
Ø  Pada kebun yang ketinggian tempatnya lebih dari         300 m dpl serangan berlangsung sepanjang tahun.
d.   Pengendalian penyakit
Dengan menghembuskan serbuk belerang cirrus dengan dosis 6-7 kg/ha interval 3-7 hari dengan aplikasi 3-4 kali.
Penghembusan dilaksanakan pagi-pagi benar dimana masih ada embun, yaitu ± jam 02.00-05.00 WIB.
Untuk daerah/blok yang sering terserang penyakit tersebut pada saat mulai flush dipupuk ekstra Nitrogen agar daun cepat mencapai ukuran dewasa.
3.4.2.      Penyakit gugur daun Colletotrichum (Colletotrichum  gloeosporioides)
a.    Penyebab penyakit
Disebabkan oleh jamur Colletotrichum gloeosporioides
b.    Gejala penyakit
Ø  Serangan pada daun muda menimbulkan bercak-bercak berwarna coklat kehitaman pada bagian tengahnya, diikuti  mengeriputnya lembaran daun, timbulnya busuk kebasahan pada bagian yang terinfeksi dengan akibat lebih jauh gugurnya daun.
Ø  Pada daun-daun yang lebih tua bila terserang menyebabkan tepid an ujung daun berkeriput serta pada permukaan daun terdapat bercak-bercak berwarna coklat, bila daun bertambah umurnya, bercak akan berlubang di tengahnya.
c.    Faktor yang mempengaruhi penyakit
Ø  Kelembaban dan curah hujan yang tinggi serta jumlah hari hujan yang banyak sangat membantu timbul dan berkembangnya penyakit ini.
Ø  Penyakit ini biasa timbul dan berkembang pada musim hujan, berbeda dengan penyakit Oidium yang berjangkit pada akhir musim kemarau.
Ø  Di pembibitan dan di kebun entres penyakit ini dapat diketahui sepanjang tahun sebab di tempat-tempat tersebut keadaannya selalu lembab.
d.   Pengendalian penyakit
Ø  Disemprot dengan fungisida Dithane M 45 dengan konsentrasi 0,25 % (2,5 gr Dithane M 45 / 1 lt air), dosis 400-600 lt/ha, interval 5-7 hari.
Ø  Bila terserang perlu penambahan ekstra pupuk dan pembibitan harus selalu bersih.
3.4.3.      Penyakit gugur daun Corynespora (Corynespora casiicola)
a.    Penyebab penyakit
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Corynespora casiicola
b.    Gejala penyakit
Ø  Daun yang masih muda (flush) apabila terserang warnanya berubah menjadi kuning menggulung akhirnya menjadi layu.  Daun-daun terlepas dari tangkainya, tangkainya akhirnya juga gugur.  Tidak menimbulkan bercak nyata.
Ø  Pada daun yang tua serangan ditandai dengan adanya bercak-bercak tak beraturan berwarna coklat tua-hitam tampak mirip seperti tulang ikan atau seperti gambaran tetesan tinta hitam pada kertas buram.
c.    Faktor yang mempengaruhi penyakit
Serangan timbul pada keadaan cuaca yang lembab atau mendung dengan curah hujan relatif tidak terlalu tinggi dan merata sepanjang hari.
d.   Pengendalian penyakit
Disemprot  dengan fungisida Dithane M 45 atau Bavistine 50 WP dengan konsentrasi 0,2 % dengan interval 7-10 hari.
PENYADAPAN
1.      POLA DASAR SADAPAN
1.1.     Kriteria Sadap
·         Lilit batang telah mencapai minimum 45 cm diukur setinggi 1 m dari kaki gajah (bekas pertautan okulasi) tertinggi.
·         Jumlah pohon karet yang lilit batangnya 45 cm dengan ketebalan kulit 7 mm telah mencapai 60% (umur 5 tahun) atau 80% (umur <5 tahun) dari areal tanaman karet yang akan disadap (manajemen blok).
·         Pembukaan sadapan dilakukan pada bulan Oktober (telahmemasuki musim hujan).
1.2.     Persiapan Buka Sadap
·      Menyeleksi dan melatih calon penyadap melalui Tapping School
·      Mengidentifikasi dan menginventarisir jumlah pohon yang matang sadap dilakukan pada TBM V.
·      Melakar bidang sadap.
1.3.     Tinggi Buka Sadap
·      Bagian depan setinggi 130 cm diukur dari titik terendah alur sadap terhadap batas pertautan okulasi yang tertinggi.
·      Agar dapat diinventarisir dengan seksama maka pada pojok irisan tertinggi diberikan tanggal bukaan, misalnya 4.10.12 (tanggal 4, bulan 10 dan tahun 2012).
·      Tinggi sadapan pada bidang sadap B0 - 2 juga setinggi 130 cm (tidak dibenarkan menambah ketinggian/penjulukan).
1.4.     Kemiringan Sadapan
·      Posisi pembuluh lateks dari kanan atas ke kiri dengan sudut 3,70 dengan bidang tegak.
·      Kemiringan sadapan untuk sadap bawah adalah 400 diukur terhadap garis horizontal.
·      Kemiringan sadapan untuk sadap atas adalah 450 diukur terhadap garis horisontal.
·      Saat akan dilakukan penyadapan kearah atas agar tidak terjadi cikalan  karena perbedaan sudut kemiringan maka penyadapan tetap dilakukan dengan menyadap kearah atas.
·      Pada topografi miring bukaan sadap (B0–1) posisi mangkok berada di “bokongan” sedangkan pada areal datar bukaan sadap dilakukan diarah Barat. Pada kondisi pohon miring B0-1 posisi mangkok menyesuaikan.
1.5.     Kulit Pohon
·      Kulit pohon yang disadap apabila sudah memiliki ketebalan 7 mm. Pada umur 5 tahun pada umumnya ketebalan tersebut akan dicapai.
·      Pemulihan kulit pertama (B1-1) dalam waktu 7 tahun dapat mencapai 7 mm, sedangkan untuk pemulihan kulit kedua (B1-2) dicapai dalam waktu 8 tahun.
·      Luka kayu tidak boleh terjadi pada kulit perawan dan kulit pulihan.
1.6.     Sistem Sadap
Sistem sadap ditulis dengan simbol :
S   =  Spiral  =   Irisan sadapan sepanjang satu lingkaran.
D  =  Day     =   hari : menunjukkan hari sadap.
Contoh : S2     d3  =  S2      :  Irisan sadap ½ lingkaran
                                                   :  Arah sadapan ke bawah
     d3   :  Disadap 3 hari sekali
1.7.     Intensitas Sadap
·      Intensitas sadap menunjukkan kemampuan pohon disadap yang dinyatakan dalam persen ( % ).
·      Sebagai pedoman, sistem sadap S2    d2 yaitu disadap 2 hari sekali atau 180 hari sadap dalam satu tahun, dinyatakan mempunyai intensitas sadap 100 %.
·      Secara matematis dijabarkan sebagai berikut :
Perhitungan :
                              s.d
S2 .d2    = 100%  -----------    =    100%     sd  = 400%
                              2 x 2
                  s.d       400 %
S2 . d3 =   ------------      =  -----------    =   67 %
2         x  3    6
1.8 Waktu Menyadap
Berdasarkan hasil penelitian, waktu paling lambat mulai menyadap yang terbaik adalah jam 04.00 WIB ( dini hari ) dengan maksud agar mendapatkan hasil latek yang terbaik / tertinggi.








BAB III
PENUTUP


KESIMPULAN
Berdasarkan isi makalah di atas dapat disimpulkan bahwa :
1.      H. brasiliensis yang mempunyai nilai ekonomi tanaman komersial, karena species ini banyak menghasilkan lateks dan kualitasnya lateksnya cukup baik.
2.      Batang tanaman karet mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks.
3.      Tanaman karet sangat cocok untuk dibudidayakan di perkebunan wilayah Indonesia yang bercurah hujan optimal antara 2.500 mm sampai 4.000 mm/tahun,dengan hari hujan berkisar antara 100 sd. 150 HH/tahun.


SARAN
   
Negara Indonesia sebagai salah satu penghasil karet di dunia perlu membudidayakan tanaman karet, sehingga dapat tetap menjadi komoditas ekspor utama Indonesia. Oleh karena itu, perlu dilakukan peremajaan terhadap tanaman karet.

























DAFTAR PUSTAKA

Vademecum Budidaya Karet PTP Nusantara IX . 2015. Semarang










 
 

Comments

Popular posts from this blog

ringkasa kimia organik