makalah ajaran aswaja dalam bidang aklhak / tasawuf
MAKALAH
Filsafat
Agama Islam
‘’Prinsip-prinsip ajaran aswaja dalam
bidang aklhak/tasawuf’’
Dosen Pembimbing :
Dr.M.Syaifudin.MA
disusun oleh :
kelompok 6
- Obi Novandy S
- Muhammad Ali
Rif’an
- Muhammad Faid Ghufron
Fakultas Pertanian
Universitas Wahid
Hasyim Semarang
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan
hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul “prinsip-prinsip ajaran aswaja dalam
bidang aklhak/tasawuf ” guna
memenuhi
tugas mata kuliah Filsafat Agama Islam.
Makalah ini membahas mengenai aklhak/tasawuf,
juga membahas seberapa besar manfaat prinsip-prinsip ajaran aswaja dalam bidang
aklhak/tasawuf bagi kehidupan umat manusia.
Serta pihak-pihak
lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Penulis
hanya dapat berdoa semoga amal kebaikan yang telah
diberikan mendapat imbalan pahala yang
berlipat ganda dari Allah SWT.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat, baik bagi penulis maupun pembaca.
Semarang,15
mei 2016
Penulis
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar ............................................................................................. i
Daftar Isi ....................................................................................................... ii
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang ....................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................. 3
BAB II Pembahasan
2.1.macam-macam tasawuf..........................................................
5
2.2.tasawuf dan
pengaruhnya bagi manusia................................. 9
BAB III Penutup
A. Kesimpulan ........................................................................... 15
B. Saran ...................................................................................... 15
Daftar Pustaka ............................................................................................ 17
BABI
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Islam sebagaimana
dijumpai dalam sejarah, ternyata tidak sesempit seperti yang dipahami oleh
masyarakat Islam sendiri pada umumnya. Dalam sejarah terlihat bahwa Islam yang
bersumber kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dapat berhubungan dengan pertumbuhan
masyarakat luas. Dari persentuhan tersebut lahirlah berbagai disiplin ilmu
keislaman, salah satunya adalah tasawuf.
Kajian
tasawuf adalah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kajian Islam di
Indonesia. Sejak masuknya Islam di Indonesia telah tampak unsur tasawuf
mewarnai kehidupan keagamaan masyarakat, bahkan hingga saat ini pun nuansa
tasawuf masih kelihatan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman
keagamaan sebagian kaum Muslimin di Indonesia, terbukti dengan semakin maraknya
kajian Islam bidang ini dan juga melalui gerakan tarekat Muktabaran yang masih
berpengaruh di masyarakat.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa saja ajaran praktis akhlak tasawuf ?
2.
Bagaimana pengaruh ilmu akhlak tasawuf ?
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.MACAM-MACAM
TASAWUF
2.1.1
Tasawuf Akhlaqi
Tasawuf
akhlaqi adalah tasawuf yang berkonstrasi pada teori-teori perilaku, akhlaq atau
budi pekerti atau perbaikan akhlaq. Dengan metode-metode tertentu yang telah
dirumuskan, tasawuf seperti ini berupaya untuk menghindari akhlaq mazmunah dan
mewujudkan akhlaq mahmudah. Tasawuf seperti ini dikembangkan oleh ulama’ lama
sufi.
Dalam
pandangan para sufi berpendapat bahwa untuk merehabilitasi sikap mental yang
tidak baik diperlukan terapi yang tidak hanya dari aspek lahiriyah. Oleh karena
itu pada tahap-tahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seseorang diharuskan
melakukan amalan dan latihan kerohanian yang cukup berat tujuannya adalah
mengusai hawa nafsu, menekan hawa nafsu, sampai ke titik terendah dan -bila
mungkin- mematikan hawa nafsu sama sekali oleh karena itu dalam tasawuf akhlaqi
mempunyai tahap sistem pembinaan akhlak disusun sebagai berikut:
a.
Takhalli
Takhalli
merupakan langkah pertama yang harus di lakukan oleh seorang sufi. Takhalli
adalah usaha mengosongkan diri dari perilaku dan akhlak tercela. Salah satu
dari akhlak tercela yang paling banyak menyebabkan akhlak jelek antara lain
adalah kecintaan yang berlebihan kepada urusan duniawi. Takhalli ini dapat
dicapai dengan menjauhkan diri dari kemaksiatan, kelezatan atau kemewahan
dunia, serta melepaskan diri dari hawa nafsu yang jahat, yang kesemuanya itu
adalah penyakit hati yang dapat merusak. Menurut kelompok sufi, maksiat dibagi
menjadi dua, yakni maksiat lahir dan maksiat batin, Maksiat lahir adalah segala
bentuk maksiat yang dilakukan atau dikerjakan oleh anggota badan yang bersifat
lahir. Sedangkan maksiat batin adalah berbagai bentuk dan macam maksiat yang
dilakukan oleh hati, yang merupakan organ batin manusia.
Kelompok
sufi beranggapan bahwa penyakit-penyakti dan kotoran hati yang sangat berbahaya
dapat menjadi hijab untuk dapat dekat dengan tuhan. Sehingga agar mudah
menerima pancaran Nur Illahi dan dapat mendekatkan diri dengan tuhan maka hijab
tersebut haruslah dihapuskan dan dihilangkan. Yakni, dengan berusaha
membersihkan hati dari penyakit-penyakit hati dan kotoran hati yang dapat
merusak. Upaya pembersihan hati ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut
:
Menghayati segala bentuk ibadah, agar dapat memahaminya secara hakiki
Berjuang dan berlatih membebaskan diri dari kekangan hawa nafsu yang jahat
dan menggantinya dengan sifat-sifat yang
positif.
Menangkal kebiasaan yang buruk dan mengubahnya dengan kebiasaan yang baik.
Muhasabah, yakni koreksi terhadap diri sendiri tentang keburukan-keburukan apa
saja yang telah dilakukan dan menggantinya dengan kebaikan-kebaikan.
b.
Tahalli
Secara
etimologi kata Tahalli berarti berhias. Sehingga Tahalli adalah menghiasi diri
dengan sifat-sifat yang terpuji serta mengisi diri dengan perilaku atau
perbuatan yang sejalan dengan ketentuan agama baik yang bersifat lahir maupun
batin. Definisi lain menerangkan bahwa Tahalli berarti mengisi diri dengan
perilaku yang baik dengan taat lahir dan taat batin, setelah dikosongkan dari
perilaku maksiat dan tercela. Diterangkan pula bahwa Tahalli adalah menghias
diri dengan jalan membiasakan diri dengan sifat dan sikap serta perbuatan yang
baik.
Tahalli
adalah tahap yang harus dilakukan setelah tahap pembersihan diri dari
sifat-sifat, sikap dan perbuatan yang buruk ataupun tidak terpuji, yakni dengan
mengisi hati dan diri yang telah dikosongkan aatu dibersihkan tersebut dengan
sifat-sifat, sikap, atau tindakan yang baik dan terpuji. Dalam hal yang harus
dibawahi adalah pengisian jiwa dengan hal-hal yang baik setalah jiwa
dibersihkan dan dikosongkan dari hal-hal yang buruk bukan berarti hati harus
dibersihkan dari hal-hal yang buruk terlebih dahulu, namun ketika jiwa dan hati
dibersihkan dari hal-hal yang bersifat kotor, merusak, dan buruk harus lah
diiringi dengan membiasakan diri melakukan hal-hal yang bersifat baik dan
terpuji. Karena hal-hal yang buruk akan terhapuskan oleh kebaikan.
Tahalli
juga berarti menghiasi diri dengan sifat-sifat Allah. Yaitu menghiasi diri
dengan sifat-sifat yang terpuji. Apa bila jiwa dapat diisi dan dihiasi dengan
sifat-sifat yang terpuji, hati tersebut akan menjadi terang dan tenang,
sehingga jiwa akan menjadi mudah menerima nur Illahi karena tidak terhijab atau
terhalang oleh sifat-sifat yang tercela dan hal-hal yang buruk. Hal-hal yang
harus dimasukkan, meliputi sikap mental dan perbuatan luhur itu adalah seperti
taubat, sabar, kefakiran, zuhud, tawakal, cinta, dan ma’rifah.
c.
Tajalli
Tajalli
adalah tahap yang dapat ditempuh oleh seorang hamba ketika ia sudah mampu
melalui tahap Takhalli dah Tahalli. Tajalli adalah lenyapnya atau hilangnnya
hijab dari sifat kemanusiaan atau terangnya nur yang selama itu
tersembunyi atau fana segala sesuatu selain Allah, ketika nampak wajah Allah.
Tahap
Tajalli di gapai oleh seorang hamba ketika mereka telah mampu melewati tahap
Takhalli dan Tahalli. Hal ini berarti untuk menempuh tahap Tajalli seorang
hamba harus melakukan suatu usaha serta latihan-latihan kejiwaan atau
kerohanian, yakni dengan membersihkan dirinya dari penyakit-penyakit jiwa
seperti berbagai bentuk perbuatan maksiat dan tercela, kemegahan dan kenikmatan
dunia lalu mengisinya dengan perbuatan-perbuatan, sikap, dan sifat-sifat yang
terpuji, memperbanyak dzikir, ingat kepada Allah, memperbanyak ibadah dan
menghiasi diri dengan amalan-amalan mahmudah yang dapat menghilangkan penyakit
jiwa dalam hati atau dir seorang hamba.
d.
Munajat
Munajat
berarti melaporkan segala aktivitas yang dilakukan kehadirat Allah SWT.
Maksudnya adalah dalam munajat seseorang mengeluh dan mengadu kepada Allah
tentang kehidupan yang seorang hamba alami dengan untaian-untaian kalimat yang
indah diiringi dengan pujian-pujian kebesaran nama Allah.
Menurut
kaum sufi, tangis air mata itu menjadi salah satu amal adabiyah atau , suatu
riyadhah bagi orang sufi ketika bermunajat kepada Allah. Para kaum sufi pun
berpandangan bahwa tetesan-tetesan air mata tersebut merupakan suatu tanda
penyeselan diri atas kesalahan-kesalahan yang tidak sesuai dengan kehendak
Allah. Sehingga, bermunajat dengan do’a dan penyesalan yang begitu mendalam
atas semua kesalahan yang diiringi dengan tetesan-tetesan air mata
merupakan salah satu cara untuk memperdalam rasa ketuhanan dan mendekatkan diri
kepada Allah.
e.
Muraqabah
Muraqabah
menurut arti bahasa berasal dari kata raqib yang berarti penjaga atau pengawal.
Muraqabah menurut kalangan sufi mengandung pengertian adanya kesadaran diri
bahwa ia selalu berhadapan dengan Allah dalam keadaan diawasi-Nya. Muroqobah
juga dapat diartikan merasakan kesertaan Allah, merasakan keagungan Allah Azza
wa Jalla di setiap waktu dan keadaan serta merasakan kebersamaan-Nya di kala
sepi atau pun ramai.
Sikap
muroqobah ini akan menghadirkan kesadaran pada diri dan jiwa seseorang bahwa ia
selalu diawasi dan dilihat oleh Allah setiap waktu dan dalam setiap kondisi
apapun. Sehingga dengan adanya kesadaran ini seseorang akan meneliti apa-apa
yang mereka telah lakukan dalam kehidupan sehari-hari, apakah ini sudah sesuai
dengan kehendak Allah ataukan malah menyimpang dari apa yang di tentukan-Nya.
Ketika
muroqobah dilakukan untuk menghadirkan kemantapan hati dan ketenangan batin
seseorang dalam praktik mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini dikarenakan,
bila sudah tertanam kesadaran bahwa seseorang selalu melihat Allah dengan
hatinya dan ia sadar bahwa Allah selalu memandangnya dengan penuh perhatian
maka seseorang tersebut akan semakin mantab untuk mengamalkan dan melakukan
apa-apa yang diridloi oleh Allah sehingga batin nya akan semakin terbuka untuk
dapat mendekatkan dirinya pada Allah.
f.
Muhasabah
Muhasabah
seringkali diartikan dengan memikirkan, memperhatikan, dan memperhitungkan amal
dari apa-apa yang ia sudah lakukan dan apa-apa yang ia akan lakukan. Muhasabah
juga didefinisikan dengan meyakini bahwa Allah mengetahui segala fikiran,
perbuatan, dan rahasia dalam hati yang membuat seseotang menjadi hormat, takut,
dan tunduk kepada Allah.
Di
dalam muhasabah, seseorang terus-menerus melakukan analisis terhadap diri dan
jiwa beserta sikap dan keadaannya yang selalau berubah-ubah. Orang tersebut
menghisab dirinya sendiri tanpa menunggu hingga hari hari kebangkitan. Dalam
muhasabah hal-hal yang perlu dipaerhatikan adalah menghisab tentang kebajikan
dan kewajiban yang sudah dilaksanakan dan seberapa banyak maksiat yang sudah
dilaksanakan. Apabila kemaksiatan lebih banyak dilakukan, maka orang tersebut
harus menutupnya dengan kebaikan-kebaikan diringi dengan taubatan nasuha.
Dengan
demikian sikap mental muhasabah dalah salah satu sikap mental yang harus
ditanamkan dalam diri dan jiwa agar dapat meningkatkan kualitas keimanan kita
terhadap Allah SWT. Sehingga sikap mental ini akan dapat meningkatkan kualitas
ibadah kita kepada Allah SWT, dan membukakan jalan untuk menuju kepada Allah
SWT.
2.1.2
Tasawuf Falsafi
Tasawuf
falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi
rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasawuf akhlaqi, tasawuf falsafi
menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya. Terminology falsafi
tersebut berasal dari bermacam-macamajaran filsafat yang telah mempengaruhi
para tokohnya.
Menurut
at-Taftazani, tasawuf falsafi muncul dengan jelas dalam khazanah islam sejak
Islam sejak abad keenam hijriyah, meskipun atikohnya baru dikenal seabad
kemudian.
Ciri
umum tasawuf falsafi menurut At-Taftazani adalah ajarannya yang samar-samar
akibat banyaknya istilah khusus yang hanya dapat difahami oleh siapa aja yang
memahami ajaran tasawuf jenis ini. Tasawuf falsafi tidak hanya dipandang
sebagai filsafat karena ajaran dan metodenya didasarkan pada rasa(dzauq),
tetapi tidak dapat pula dikategorikan sebagai tasawuf dalam pengertian yang
murni, karena ajarannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih
berorientasi pada panteisme.
Para
sufi yang juga filosof pendiri aliran tasawuf ini mengenal dengan baik filsafat
Yunani serta berbagai alirannya seperti Socrates, Aristoteles, aliran Stoa, dan
aliran Neo_Platonisme dengan filsafatnya tentang emanasi. Bahkan mereka pun
cukup akrab dengan filsafat yang sering kali disebut hermenetisme yang
karya-karyanya sering diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan filsafat-filsafat
Timur kuno, baik dari Persia maupun dari India serta filsafat-filsafat Islam
seperti yang diajarkan oleh Al-Farabi dan Ibn Sina. Mereka pun
dipengaruhi aliran Batiniyah sekte Ismailiyah aliran Syi’ah dan risalah-risalah
Ikhwan Ash-Shafa.
Objek
yang menjadi perhatian para tasawuf filosof adalah
a.
latihan rohaniyah dengan rasa, intuisi, serta instroprksi diri yang timbul
darinya. Mengenai latihan rohaniah dengan tahapan Maqam maupun keadaan (hal),
rohani serta rasa(dhauq
b.
Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, seperti sifat-sifat
robbani, ‘arty, kursi, malaikat, wahyu, kenabian, roh, hakikat realitas segala
yang wujud, yang gaib, maupun yang tampak, dan susunan kosmos, terutama tentang
penciptaannya. Mengenai iluminasi ini para sufi dan juga filosof tersebut
melakukan latihan rohaniah dengan mematikan kekuatan syhwat serta menggairahkan
roh dengan jalan menggiatkan Dzikir, dengan dzikir menurut mereka, jiwa dapat
memahami hakikat realitas-realitas.
2.1.3 Tasawuf
‘Irfani
Tasawuf
‘Irfani adalah tasawuf yang berusaha menyikap hakikat kebenaran atau ma’rifah
diperoleh dengan tidak melalui logika atau pembelajaran atau pemikiran tetapi
melalui pemebirian Tuhan (mauhibah). Ilmu itu diperoleh karena si sufi berupaya
melakukan tasfiyat al-Qalb. Dengan hati yang suci seseorang dapat
berdialog secara batini dengan Tuhan sehingga pengetahuan atau ma’rifah
dimasukkan Allah ke dalam hatinya, hakikat kebenaran tersingkap lewat ilham
(intuisi).
Tokoh-tokoh
yang mengembangkan tasawuf ‘irfani antara lain : Rabi’ah al-Adawiyah (96 – 185
H), Dzunnun al-Misri (180 H – 246 H), Junaidi al-Bagdadi (W. 297 H), Abu Yazid
al-Bustami (200 H – 261 H), Jalaluddin Rumi, Ibnu ‘Arabi, Abu Bakar as-Syibli,
Syaikh Abu Hasan al-Khurqani, ‘Ain al-Qudhat al-Hamdani, Syaikh Najmuddin
al-Kubra dan lain-lainnya.
2.1.4
Tasawuf Al-Ghazali
Menurut
Imam Ghazali, tasawuf adalah “Jalan (thariq) ditempuh dengan mempersembahkan
kegiatan mujahadah (perjuangan) dan menghapus sifat-sifat tercela dan
memutuskan semua ketergantungan dengan makhluk, serta menyongsong esensi
cita-cita bertemu Allah. Jika tujuan itu tercapai, maka Allah-lah yang menjadi
penguasa dan pengendali hati hamba-Nya, dan Dia menerangi hamba-Nya dengan
cahaya ilmu.” “Jika Allah berkenan mengurusi hati hamba-Nya, maka Dia akan
menambahkan rahmat pada hati tersebut; cahaya hati tersebut akan bersinar
cemerlang, dada menjadi lapang, terbuka baginya rahasia kekuasaan Allah, hijab
yang menghalangi kemuliaan hati akan terbuka dengan kelembutan rahmat, serta
hakikat masalah-masalah ketuhanan akan tersibak.”
Jika semua ini telah dicapai, maka seorang sufi telah mencapai derajat musyahadah yang menjadi tujuan tasawuf
Jika semua ini telah dicapai, maka seorang sufi telah mencapai derajat musyahadah yang menjadi tujuan tasawuf
2.2
TASAWUF DAN PENGARUHNYA BAGI MANUSIA
2.2.1
Pengaruh Tasawuf dalam Pemikiran dan Intelektual Islam
Tasawuf memiliki pengaruh cukup kuat di dalam disiplin ilmu Islam lainnya. Ia
merupakan bibit keharuman dalam Islam. Sebab menjadi inti cahaya (Nur)
Muhammad, merupakan pengajaran jiwa dan ruhaninya. Ia juga memiliki andil cukup
besar dalam mengungkap makna-makna Al Quran dan hadis Nabi. Di dalam
pengetahuan Islam sendiri, tasawuf merupakan kekuatan yang besar meski harus
menghadapi serangan bertubi-bertubi dari sayap kanan dan kiri. Tasawuf
merupakan khazanah besar sepanjang penggalian pengetahuan alam.
Tasawuf telah berhasil menyumbangkan andilnya yang tidak sedikit dalam
perluasan Islam. Ia ikut menaklukkan bangsa-bangsa yang yang selama ini masih
belum tersentuh Islam (hal ini memang diperlukan dalam periode Islam pertama,
karena-ketika itu-obyek dakwah masih asing melihat Islam, dan cenderung
memusuhinya, ed...), atau belum dapat dibangunnya sentral dakwah di
tengah-tengah mereka. Lambat laun kaum sufi berhasil menembus jantung Afrika,
dataran Asia dan hampir merata di kepulauan teduh. Merekalah yang berhasil
menempatkan Islam di hati umat manusia, dengan kelemahlembutan dan kasih sayang
yang mereka kedepankan kepadanya. Merekalah yang berdiri di hadapan umat,
mengobati kebobrokan mental, dan meringankan bencana hidup, serta menyelamatkan
anak manusia dari jurang kesesatan dan kebimbangan. Mereka berani
menghadapi para khalifah, juga para pejabat pemerintah, guna menegakkan
keadilan di antara para pemimpin tersebut.
Tasawuf benar-benar berhasil mendirikan perguruan tinggi di jantung dunia Islam
beratus tahun sebelum berdirinya perguruan lainnya. Dengan demikian, madrasah
atau perguruan-perguruan milik para tokoh tasawuf dan pengikutnya menjadi
madrasah atau perguruan percontohan yang bergerak sendiri di planit bumi. Ia
merupakan akademi ilmiah dimana para gurunya menerima cahaya dari Allah. Mereka
terbangkan hati ke langit cinta.
Di dalam akademi tersebut juga mereka tuangkan ilmu kepada para pengikut yang
sekaligus sebagai muridnya. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa, metode
pendidikan mental dan akhlak masing-masing para tokoh sufi dan pengikutnya di
sekolah tinggi mereka itu, menjadi metode pendidikan tertinggi di dunia. Sebab,
pendidikan mereka mempunyai tujuan yang paling terpuji, semenjak terbentuknya
belajar mengajar antara guru dan anak didiknya.
Para penyair tasawuf telah berjasa dalam mengangkat prosa sebagai salah satu
bentuk di antara disiplin ilmu yang ada. Prosa-prosa karya mereka menjadi
senjata di dalam aktifitas dakwah, memperbaiki warna kehidupan, serta sedikit
demi sedikit meredam kebrutalan (vandalisme) dan kebiadaban serta setiap gerak
yang mengarah kepada prilaku amoral.
Tasawuf adalah dunia sempurna. Di dalamnya terdapat ilmu, akhlak, pengetahuan,
filsafat, fiqh, usul, kisah-kisah serta segala macam yang diperlukan pada
pendalaman ilmu, budi pekerti, kabahagiaan, kelezatan, ketentraman, kebahagiaan
yang harum. Darinya mengalir cinta dan sukacita.
2.2.2
Pengaruh Tasawuf dalam Sosial dan Ekonomi Umat
Saat
ini kita berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern, atau sering pula
disebut sebagai masyarakat yang sekuler. Pada umumnya, hubungan antara anggota
masyarakatnya atas dasar prinsip-prinsip materialistik. Mereka merasa bebas dan
lepas dari kontrol agama dan pandangan dunia metafisis. Dalam masyarakat modern
yang cenderung rasionalis, sekuler dan materialis, ternyata tidak menambah
kebahagiaan dan ketentraman hidupnya. Berkaitan dengan itu, Sayyid Hosein Nasr
menilai bahwa akibat masyarakat modern yang mendewakan ilmu pengetahuan dan
teknologi, berada dalam wilayah pinggiran eksistensinya sendiri. Masyarakat
yang demikian adalah masyarakat Barat yang telah kehilangan visi keilahian. Hal
ini menimbulkan kehampaan spiritual, yang berakibat banyak dijumpai orang yang
stress dan gelisah, akibat tidak mempunyai pegangan hidup.
Untuk
mengantisipasi hal-hal semacam di atas, maka diperlukan keterlibatan langsung
tasawuf dalam kancah politik dan ekonomi, hal ini dapat kita lihat dalam sejarah
Tarekat Sanusiyah di berbagai daerah di Afrika Utara, Dalam kiprahnya, tarekat
ini tidak henti-hentinya bekerja dengan pendidikan keruhanian, disiplin tinggi,
dan memajukan perniagaan yang menarik orang-orang ke dalam pahamnya. Maka
Fazlur Rahman menceritakan bahwa tarekat ini menanamkan disiplin tinggi dan
aktif dalam medan pejuangan hidup, baik sosial, politik, dan ekonomi.
Pengikutnya dilatih menggunakan senjata dan berekonomi (berdagang dan bertani).
Gerakannya pada perjuangan dan pembaharuan, dan programnya lebih berada dalam
batasan positivisme moral dan kesejahteraan sosial, tidak
"terkungkung" dalam batasan-batasan spiritual keakhiratan. Coraknya
lebih purifikasionis dan lebih aktif, memberantas penyelewengan moral, sosial
dan keagamaan, maka Fazlur Rahman menamakannya sebagai Neo-Sufisme.
Kebutuhan
akan kekuatan ekonomi dan teknologi saat ini sangat diperlukan bagi penunjang
keberhasilan umat Islam demi menjaga dan mengangkat martabat umat itu sendiri,
kerena sudah banyak terbukti bahwa umat Islam sering dijadikan bulan-bulanan
oleh orang-orang kafir karena kelemahan mereka dibidang ekonomi yang akhirnya
menjadikan mereka lemah dalam bidang teknologi dan politik, hal ini adalah
suatu bahaya yang wajib dihilangkan dan dijauhi oleh orang-orang yang percaya
terhadap Allah dan rasulnya, kalau kita perhatikan saat ini bahaya dari
terbengkalainya perekonomian sangat membahayakan umat, oleh karena itu
pembenahan dalam bidang ekonomi sangat diperlukan sebagai perantara bagi umat
untuk memperoleh kedamaian di Dunia dan Akhirat, dalam sebuah kaidah, ulama'
membuat sebuah kaidah di dalam menangapi berbagai perintah Allah demi
memperoleh kesempurnaan dalam menjalankanya yang berbunyi: "segala bentuk
perantara yang bisa menunjang kesempurnaan suatu kewajiban maka hukumnya
menjadi wajib".
Dari
serangkaian paparan di atas kiranya kita bisa mengetahui bahwa perkembangan
tasawuf mulai dari awal munculnya sampai pada saat ini memang dituntut untuk
mengalami berbagai bentuk perubahan yang di sesuaikan dengan keadaan dan pola
kebiasaan dari suatu Masyarakat, karana tasawuf ibarat makanan yang disuguhkan
oleh para mursyid kepada suatu masa atau masyarakat yang berbeda-beda di setiap
tempat dan waktu dan membutuhkan keahlian dan racikan yang berbeda pula, tetapi
perubahan bentuk itu hanya sebatas pada bentuk luarnya saja, secara garis besar
konsep dasar yang ada dalam tasawuf hanyalah satu, yaitu keyakinan, ketundukan,
kepatuhan, pendekatan terhadap serta menjahui hal-hal yang bisa menganggu
ibadah kepada Allah yang satu.
Manusia
selama hidup di dunia tidak bisa terlepas oleh factor-faktor yang mempengaruhi
dirinya, baik yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri maupun factor
yang berasal dari luar dirinya. Factor yang berasal dari dalam dirinya bisa
berupa sifat-sifat yang sudah melekat sejak dia lahir atau bersifat genetic
sehingga sulit seandainya ingin merubah sifat bawaan tersebut. Sifat-sifat
tersebut seperti pemarah, lemah lembut, berpendirian keras, dan lain
sebagainya. Sedangkan factor yang berasal dari luar sangat beragam bentuknya,
seperti factor lingkungan tempat dia tinggal, orang lain (bisa berupa teman,
guru, kedua orang tua, dan lain-lain), agama, adat istiadat, budaya, dan lain
sebagainya.
Kehidupan masyarakat di
perkotaan sangat berbeda dengan kehidupan di pedesaan. Tradisi dan budaya nenek
moyang di masyarakat pedesaan masih sangat dijaga kelestariannya, Hal ini
disebabkan adanya kekompakan dan gotong-royong yang masih membudaya, baik di
kalangan kaum tua maupun kaum mudanya. Sifat komunal tersebut sangat sulit
sekali ditemukan apabila kita pergi ke perkotaan. Individualisme dan saling
mementingkan diri sendiri merupakan ciri khas masyarakat perkotaan.
Tasawuf sebagai suatu
ajaran yang mengajarkan tentang prilaku atau etika manusia, baik terhadap antar
sesama manusia maupun kepada Tuhan-Nya, sangat mempengaruhi warna keislaman di
Indonesia. tetapi pengaruh tersebut tidak sepenuhnya merata masuk ke semua
lapisan mesyarakat.
2.2.4
Masyarakat Perkotaan Dan Pedesaan dalam Konsep Spiritualitas
Masyarakat perkotaan sering disebut juga urban community. Pengertian masyarakat
kota lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupannya dan ciri-ciri kehidupannya
yang berbeda dengan masyarakat pedesaan.
Dibawah ini akan diuraikan secara singkat beberapa perbedaan yang menonjol
antara masyarakat desa dan masyarakat kota, yaitu:
Kehidupan keagamaan di
kota berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
Jalan pikiran rasional
yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan, menyebabkan bahwa interaksi-interaksi
yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor pribadi.
Perubahan-perubahan
sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam
menerima pengaruh-pengaruh dari luar.
Belakangan ini
masyarakat kota di Indonesia mengalami peningkatan dalam hal minat mereka
terhadap berbagai macam jalan spiritual. Fenomena tersebut muncul berakar dari
gejolak masyarakat perkotaan di Indonesia sebagai akibat krisis yang
berkepanjangan yang menimpa negeri ini. Juga dekadensi moralitas yang
mempengaruhi gaya hidup orang kota.
Spiritualitas adalah bidang penghayatan batiniah kepada Tuhan melalui laku-laku
tertentu yang sebenarnya terdapat pada setiap agama. Namun, tidak semua
penganut agama menekuninya. Bahkan beberapa agama memperlakukan aktivitas
pemberdayaan spiritual sebagai praktik yang tertutup, karena khawatir dicap
"klenik".
Dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan, masyarakat kota cenderung mencoba
mengatasinya dengan cara mencari hiburan di tempat-tempat favorit mereka yang
sekiranya dapat memberi sedikit ketenangan dalam jiwanya yang hampa. Persoalan
hidup yang pelik, melandanya berbagai macam krisis, mulai dari krisis ekonomi,
politik, sampai krisis moral menuntut mereka untuk mencari sesuatu yang dapat
memberikan ketenangan. Tapi pada kenyataannya, tempat-tempat hiburan semacam
itu tidak lagi dapat mengobati kegersangan dalam jiwa mereka. Sesungguhnya
kekosongan yang dirasakan justru ketika manusia telah mencapai kemakmuran
material, seolah mengajarkan betapa kebahagiaan sesungguhnya tidak terletak di
sana, melainkan di bagian yang lebih bersifat ruhani (spiritual). Sekarang ini,
khususnya di masyarakat kota, muncul trend kajian-kajian yang membahas tentang
sisi-sisi spiritual dalam diri manusia yang bersifat esoteric. Kejemuan
terhadap materialisme dan intelektualisme yang selama ini mengungkung mereka
dalam lingkaran dunia material dan aturan-aturan yang bersifat formalitas
menjadi sebab ketertarikan mereka dalam dunia spiritual yang lebih cenderung
mengungkap hakikat dan substansi tanpa banyak aturan yang bersifat formal.
Spiritualitas selama ini termarginalisasi. Dan memang konsepsi penghayatan
kepada kekuasaan Tuhan dapat diterima dengan mudah oleh alam bawah sadar
masyarakat pedesaan karena hidup mereka yang "apa adanya". Mereka
bekerja untuk memenuhi keperluan hidup. Berbeda dengan kecenderungan masyarakat
perkotaan yang menjadikan agama sekadar kewajiban, Bagi masyarakat desa agama
adalah kebutuhan, yang secara praktis -setelah melalui proses pemberdayaan sisi
spiritualitasnya- dapat memberi mereka jawaban-jawaban esensial untuk melakoni
hidup. Bagi masyarakat kota, situasi kehidupan materialisme membuat materi
menjadi solusi kebahagiaan sehingga penghayatan agama terkesampingkan.
Ketika intelektualisme dan materialisme kian mengakar dalam segala segi
kehidupan kota, masyarakat mulai gamang, terutama sejak pukulan krisis ekonomi
berdampak pada merosotnya nilai materi sebagai solusi kebahagiaan.
Intelektualisme pun, pada tingkat tertentu, berbenturan dengan dinding kokoh
yang menghalangi jalan manusia menuju Tuhan. Hakikatnya, manusia adalah makhluk
spiritual yang hidup di alam materi. Bukan sebaliknya!
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perkembangan tasawuf
mulai dari awal munculnya sampai pada saat ini memang dituntut untuk mengalami
berbagai bentuk perubahan yang di sesuaikan dengan keadaan dan pola kebiasaan
dari suatu Masyarakat, karana tasawuf ibarat makanan yang disuguhkan oleh para
mursyid kepada suatu masa atau masyarakat yang berbeda-beda di setiap tempat
dan waktu dan membutuhkan keahlian dan racikan yang berbeda pula, tetapi
perubahan bentuk itu hanya sebatas pada bentuk luarnya saja, secara garis besar
konsep dasar yang ada dalam tasawuf hanyalah satu, yaitu keyakinan, ketundukan,
kepatuhan, pendekatan terhadap serta menjahui hal-hal yang bisa menganggu
ibadah kepada Allah yang satu.
Kehidupan masyarakat
perkotaan memang tidak dapat terlepas dari materialisme dan sekularisme,
sehingga spiritualitas dalam diri mereka mengalami kekosongan dan kegersangan
yang berkepanjangan. Tetapi dengan masuknya tasawuf ke dalam kehidupan mereka,
spiritualitas dalam jiwa mereka mendapatkan ketenangan dan ketentraman.
Sehingga dalam menjalani hidup di perkotaan, akan terjadi keseimbangan. Agama
bukan lagi sebagai kewajiban, tetapi sebagai kebutuhan.
3.2 Saran
Setelah penjelasan
dalam makalah ini sebagai manusia biasa penulis memohon maaf apabila terjadi
kesalahan dalam penjabaran masalah atau kesalahan dalam penulisan makalah ini.
Penulis menerima saran
yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan dalam penulisan makalah selanjutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
file:///D:/
/ajarantasawuf/makalahtasawuffalsafimakalahtasawuffalsafi.html
Galang Atmajaya Ajaran-ajaran tasawuf akhlaqi.html
Harits Muhammad Abdul
bin Ibrahim A-Salafy Al-jazary. Mengenal Kaedah Dasar Ilmu Hadits (Penjelasan
Mandhumah Al-Baiquniyah), Alih Bahasa: Abu Hudzaifah. Maktabah
Al-Ghuroba,Cet.Ke-1, September 2006.
Comments
Post a Comment